Kemiskinan bukanlah problem baru bagi indonesia, nyatanya hal ini sudah berlangsung cukup lama namaun tak pernah usai walaupun estafet pemerintahan terus bergulir.
Masalahnya daya beli masyarakat menunjukkan bahwa pemasukan masyarakat tengah mengalami masalah, hal ini dikarenakan menyempitnya cakupan lapangan kerja yang dipengaruhi oleh adanya efisiensi anggaran dari pemerintah yang berdampak pada tenaga kerja sipil sehingga harus melakukan pekerjaan ganda untuk sekedar mendapatkan penghasilan tambahan mencakup kebutuhan keluarga.
Jelas ini akan menambah tantangan bagi pekerja lepas dan wiraswasta kecil yang kalah saing dengan mereka yang memiliki modal lebih dari pemodal kecil. Yang tak jarang dari mereka pemodal kecil harus gulung tikar karena tak mampu bersaing dengan yang lain.
Hasilnya jelas merujuk pada meningkatnya pertumbuhan angka kemiskinan yang salah sedikit bisa beralih ke arah kriminalitas hanya untuk kebutuhan hidup. Hal ini tak lepas dari peran penguasa dalam mengurusi rakyatnya namun nyatanya tak demikian, pemerintah malah sibuk dengan urusannya sendiri bersama segelintir elit politik. Seperti masalah program MBG yang menuai banyak kritik dan pertentangan namun masih tetap kekeh untuk dijalankan bahkan dalam masa-masa libur, bukannya introspeksi malah pihak yang membuat laporan yang dibungkam, bukankah ini penyalah gunaan kekuasaan ?
Niatnya ingin memperbaiki kehidupan masyarakat tapi sumber pemasukan masyarakat terus dipangkas dengan hadirnya berbagai pungutan pajak hanya untuk memenuhi egoisme program yang terkesan dipaksakan, terlebih karena dampak sempitnya peluang kerja menimbulkan riak kriminalitas hanya untuk memenuhi isi perut belaka.
Inilah efek politik balas budi yang harus mengorbankan masyarakat demi kepentingan elit politik. Bukannya menyejahterakan malah menyengsarakan masyarakat dan cenderung acuh tak acuh dengan kondisi mereka.
Padahal kita punya ajaran yang berjalan begitu damai, ajaran tersebut mencontohkan bagaimana cara mengurus masyarakat dengan cara tuhan yang dicontohkan oleh utusannya. Yang mengajarkan tentang tanggung jawab dan hak, dan bukan hanya mengejar kedudukan dan harta.
Inilah islam dimana setiap pemimpinnya memandang bahwa kedudukan hanyalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban, sebagaimana khalifah umar bin khattab yang takut jika ada keledai yang tergelincir karena jalannya rusak, juga membopongkan bahan pokok untuk masyarakat yang kelaparan.
Atau sebagaimana yang dilakukan khalifah umar bin abdul aziz yang menurunkan pasukan demi menjaga kehormatan rakyatnya, juga menjadikan penduduknya merasa tidak masuk sebagai orang yang membutuhkan zakat yang menunjukkan bahwa masyarakat pada saat itu sejahtera.
Beginilah gambaran kepemimpinan yang dipupuk dengan iman dan merasa takut mengambil yang bukan haknya atau bahkan bertidak semena-mena karena kekuasannya. Wallahu’alam